Jumat, 26 Juni 2009

Tentang Perikanan Organik

Dalam dunia pertanian ada mainstrem baru tentang konsep organik, atau lengkapnya pertanian organik. Ini artinya apa yang pernah menjadi organ hidup terutama produk sisa panen (limbah sawah) masuk ke sawah sebagai sumber pupuk. Untuk ini dikenal konsep komposting atau bokasi, sebuah model pembuatan bentuk sederhana dari humus. Wacana yang berkembang kemudian, pertanian oragnik adalah pertanian dengan basis kompos.

Tetapi mari kita kritisi. Dibutuhkan jasad renik (mikrooragnisme) untuk membuat kompos. Untuk ini lebih tepat menyebut pertanian organik sebagai pendekatan mikrobiologi untuk pertanian. Ini tidak berlebihan.

Karena di tanah, sebenarnya sudah ada komplek mikroorganisme yang dikenal dengan biota tanah. Peran biota tanah adalah melakukan dekomposisi (penguraian) dan fermentasi (pembusukan). Biota tanahlah yang ”bau rekso” kehidupan dalam tanah.

Kesuburan dan tingkat hasil panen, tergantung kita pintar-pintar mengelola yang ”bau rekso” tanah itu. Sejauh ini petani belum berpikir ke arah itu. Seolah, hasil panen tergantung dari pola garap dan jumlah pupuk yang diberikan. Sejalan dengan ini, pertanian organik bukan pertama-tama menambah kompos tetapi lebih luas dari itu adalah memperkuat basis dari biota tanah (lihat rantai makanan).

Bila di pertanian ada mainstrem dengan pengembangan pola organik, apakah ini juga bisa dikembangkan untuk managemen kolam ikan. Ada kesamaan prisnsip antara kolam ikan dan sawah, baik kebutuhan mikroorganisme probiotik maupun bahan organik (kompos). Jangan lupa, sumber pakan ikan di kolam alam adalah bahan organik, yang kemudian diurai oleh mikroba probiotik menjadi plankton. Dengan analogi sepotong ini, perikanan organik bukan sesuatu yang tidak mungkin.

KEHIDUPAN AIR

Konsep perikanan organik perlu dipikirkan. Karena masalah pokok dalam managemen kolam ikan adalah besarnya biaya untuk memenuhi kebutuhan pakan (kosentrat). Solusi yang paling murah adalah memasukkan bahan organik ke kolam, seperti limbah kandang (ayam, sapi, kerbau, bebek atau kambing) dan limbah sawah. Tetapi memasukkan kotoran sapi atau ayam begitu saja ke kolam, akan membuat ikan malah mati. Harus melalui proses komposting terlebih dulu. Ke depan juga akan dikenal kompos kolam. Jadi tidak hanya kompos untuk pertanian.

Dari percobaan yang dilakukan Dr. Sugeng Hariadi S.Pd, perikanan organik yang dimaksud adalah 1) pemberian mikroorganisme probiotik khusus untuk kolam. 2). Pemasangan bis beton sebagai regulator ekosistem. 3) Penambahan bahan organik (kompos kolam) sebagai substitusi pakan. Di tambah dengan 4) tanaman air untuk meningkatkan pendapatan kolam, lengkaplah apa yang disebut Pola Kolam Dr Sugeng. Konsep ini mengacu pada penataan ekosistem untuk managemen kolam ikan. Pola kolam ini - pengalaman pengkolam di jombang dan sekitarnya – selain mudan dan murah, menjamin hasil yang melimpah

Khusus untuk bahan organik yang dimasukkan kolam. Biarkan terendam di kolam paling tidak 2 (dua) minggu. Pada prinsipnya tunggu sampai Ph air mendekati 7. Atau gunakan indikator manual, yaitu tunggu sampai muncul kehidupan air oleh berbagai serangga. Bila kehidupan air sudah muncul dan sangat banyak, berarti air sudah siap juga untuk kehidupan ikan. Bahkan kalau mungkin sediakan bak khusus untuk menampung kotoran ternak, direndam dengan probiotik kolam dan di tutup terpal. Ini yang dimaksud dengan komposting basah. Bila sudah matang (biasanya minim 3 minnggu), bisa dimasukkan kolam untuk menambah sediaan organik. Pendekatan ini sangat logis. Berapa banyak bahan organik yang diberikan ke kolam, sangat signifikan menurunkan besarya kebutuhan kosentrat. (Manggar Kesuma Ayu, Aktifis LKPS ”Bhakti Nusa” Jombang)